TERNYATA KAYA DAN MISKIN ITU SANGAT BERBEDA MINDSETNYA

Advertisement

Advertisement


 

Ternyata mindset orang yang kaya dengan orang sok kaya itu berbeda loh!. Seperti apa perbedaannya ?. simak artikel ini dengan baik dan ambil pelajaran berharga dari artikel ini.

Dimulai dari kisah seorang kariyawan yang memiliki usaha sampingan.

Sebagai kariyawan, pak Herman bisa menghidupi keluarganya,  Dengan niat menambah penghasilan, dia memulai menitipkan brownies kering buatan istrinya di berbagai warung yang dilewatinya setiap ke kantor.

Ternyata dagangannya laris manis, pelanggan mulai percaya, bahkan rutin memesan berbagai jenis kue. Dalam waktu singkat, Pak Herman merasakan asyiknya punya usaha sendiri, dan berniat mengembangkannya dengan serius. Pekerjaan sebagai kariyawan ia tinggalkan, dan terjun bebas menekuni bisnis kuliner.

Karena tak lagi terikat jam kerja kantor, jangkauan pemasaran produknya kian luas, dan pelanggan  besar mulai muncul. Penghasilan tambahan yang dia harapkan datang melebihi perkiraan. Setahun berikutnya, Pak Herman sudah menjadi pemasok kue kering diberbagai pusat oleh – oleh.

Uang di tangan dan penghasilan lebih tinggi, membuat pengusaha kue kita ini mulai berubah. Dia merasa perlu merubah gaya hidupnya. Mobil tua yanng biasa menemaninya memasok kue digantikan oleh mobil baru. “kan cicilannya bisa dibayar dari keuntungan”, pikirnya. Belanja konsumsi keluarganya ikut meningkat tajam. Rencana mengecat rumah berubah jadi renovasi rumah. Dengan penampilan barunya, dia merasa lebih terhormat dan percaya diri.

Sayangnya, gaya hidupnya itu, PakHerman merasa perllu mencari tambahan modal untuk usahanya. Bank dengan jeli menawarkan berbagai macam kredit yang segera disambut dengan sukacita. Jumlah kredit yang besar membuat keinginannya memiliki pabrik kue yang bergengsi terwujud. Anda bisa tebak, gaya hidup borjuisnya juga kian jadi, bagaikan diaminkan, limit kartukerditnya terus naik tanpa ada ajukan.

Sesekali, Pak Herman merasakan bahaya yang mengancamnya. Dia merasa hidupnya jadi rumit, karena harus selalu memalsukan neraca rugi laba agar tetap dipercaya bannk. Sementara itu, gaya hidup dan pabrik kuenya terus meyedot dana besar, tapi  tidak langsung mendatangkan laba yang signifikan. Biaya operasional meleset dari hitungan. Di saat yang sama, tagihan tetap datang dan untuk menutupinya, dia tak tahu harus berbuat apa selain mengajukan lagikredit dan kredit.

Pak Herman yang sebelumnya selalu menahan diri dengan prinsip hidup bersih yang diyakininya, kini terbelit kredit bunga berbunga yang bukan hanya salah secara managerial, tapi juga melanggar kaidah agama.

Semua jenis kredit terus dibabatnya. Semua aset yang bisa digunakan dia gunakan. Kian lama dia kian berani dan tanpa perhitungan. Maka bergulirlah sebuah bola salju yang kian lama kian besar, dan tak bisa dihentikan kecuali hancur menghantam sesuatu.

Jadi, utang modal untuk usaha yang baru tumbuh, ditangan pengusaha yang bermental miskin adalah utang buruk. Utang tanpa disertai ketrampilan managerial yang matang dan mentalitas yang kaya adalah malapetaka. Bagai minum air laut, yang dihasilkan adalah kehausan demi kehausan.

Tragedi utang buruk sudah ada sejak zaman purba, perbudakan manusia terhadap manusia memang telah dinyatakan lenyap dari muka bumi. Namun, perbudakan yang disebabkan oleh utang buruk masih bercokol hingga kini, dan selalu menanti mangsa. Utang buruk menjadikan manusia terbelenggu, jauh dari karakter mereka dan kaya. Bad debt is indeed a slavery

Contents  hide 

Apa itu OKB

OKB, Anda pernah mendengar istilah itu ?

Ya, Orang Kaya Baru. Istilah ini biasa muncul ketika ada seseorang yang mengubah penampilan dan gaya hidupnya, biasanya karena medadak memperoleh uang lebih. Perubahan yang paling kasat mata adalah pola konsumsi yang meningkat, yang biasa belanja di pasar tradisional jadi merasa harus kesupermarket. Dia jadi lebih sering membahas digit besar,  dan bergaya dengan barang-barang mahal, agar dipandang sejajar dengan kalangan “kaya” lainnya.

Masalah yang berkaitan dengan Mindset Kaya

Sayangnya, banyak sekali orang yang gagal paham dalam memahami konsep “kaya”. Itu masalah gawat yang pertama. Banyak di antara kita yang menganggap bahwa orang kaya adalah mereka yang tampil wah dengan mobil bagus, bisa jalan-jalan keluar negeri, punya rumah megah, atau bisa dengan enteng membayar segelas kopi dengan harga sekarung beras.

Masalah gawat yang kedua adalah, banyak juga yang tidak tahu dengan pasti, bagaimana membangun kekayaan yang sebenarnya. Membangun kekayaan sering disamakan dengan mendirikan gedung kantor mewah di kawasan bergengsi, lagi-lagi kita harus membahasa ulang, apa sih yang disebut dengan bergengsi itu.

Membangun kekayaan sering didefinisikan sebagai mengumpulkan uang demi membayar cicilan mobil atau apartemen mahal. Mengumpulkan perhiasan atau membeli tanah diberbagai lokasi sering dianggap sebagai usaha membangun kekayaan, ii kesalahan yang ironis.

“barang siapa tidak dengan sadar membangun kekayaan, maka kemungkinan besarnya dia dengan tidak sadar sedang membangun kemiskinan”.

Masalah gawat yang ketiga adalah, banyak orang yang terjebak dan tak bisa membedakan antara “kaya”dan “kelihatan kaya”. Kerancuan pemahaman ini justru menghadang orang untuk menjadi kaya yang sebenarnya.

Sebutlah, seorang artis yang penampilannya trendy. Aneka barang yang melekat di tubuhnya bermerek internasional. Dikabarkan, sesekali main film, honornya bisa membuat kita ternganga. Berbagai tayangan infotainment dengan setia meliput kegiatan liburannya di berbagai tempat. Sayangnya, belum juga setahun namanya melambung, dia dikabarkan mengunggak tagihan listrik dan telepo, berutang di sana-sini, bahkan dilaporkan ke polisi karena diduga menipu rekan bisnisnya, beberapa puluh juta saja.

Mungkin diantara kita ada yang pernah melakukan investasi pada bisnis yang salah. Pasalnya sederhana : salah mengenali pasangan bisnis kita. Dengan rumah dan penampilannya yag mentereng, juga kebiasaannya menyebut angka-angka besar, kita pikir bahwa dia itu orang kaya. Tanpa ragu, kita pecahkan celengan demi kita ikut membangun bisnis bersama dia. Harapan kita tentu menjadi kaya, setidaknya seperti dia.

Nah, setelah beberapa kali janji bagi hasil di pungkiri, anda baru menelisik, ternyata, mobil yang dia pakai untuk menemui anda adalah mobil rental. Rumah yang megah itu sudah di agunkan, dan cicilannya dia bayar dengan utang yang lain, termasuk dengan uang anda. Bisnis properti yang selalau dia dengungkan terancam bangkrut dan menyisakan berbagai tagihan.

Teman anda itu bukan sama sekali orang kaya. Dia adalah orang yang kelihatan kaya. Bisnisnya sama sekali tidak sukses. Bisnisnya terlihat sukses.

Tiga masalah gawat ini bukan hanya kian menggejala di Indonesia, tapi sudah mulai menjadi karakter bangsa. Indonesia menjadi bangsa yang miskin karena bermain dan bermental layaknya orang miskin. Bandingkan utang Rp.1.700 triliyun yang selalu dikeluhkan banyak kalangan, dengan utang Amerika Serikat yang mencapai Rp130.000 Triliyun. Jika di Indinesia, setiap bayi lahir disebut-sebut memanggul utang sekian rupiah, pernahkan anda mendengarkan ungkapan itu di negara lain ?

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia di tahun 2011 adalah Rp 1.200 Triliyun ter tahun.

Angka yang besarkah itu ?

Coba kita lihat Jepang. Luas wilayah dan kekayaan alamnya tak sebanding dengan Indonesia. Bahkan, jika Indonesia mulai merdeka dan bangkit pada tahun 1945, maka ditahun yang sama Jepang justru mulai terpuruk. Nah, selama 66 tahun berselang, bagaimana gaya Jepang negara ini menata hidupnya ?

Setelah dihantam stunami, tiga minggu kemudian pemerintah Jepang mengalokaikan RP 7. 800 triliyun untuk dana perbaikan. Pada tahun 2010 APBN Indonesia hanya sebesar 6% dari APBN Jepang.

Secara kasat mata jelas terlihat bahwa adalah bangsa besar, bangsa yang kaya. Dalam kondisi terpuruk karena krisis ekonomi global atau bencana alam, misalnya, karakter mereka tetap kaya. Faktanya, seseorang dengan mindset orang yang kaya mampu bermain angka besar dan bisa mengelolanya dengan jitu. Sebaliknya, dengan prihatin harus kita akui bahwa anggaran setahun yang nyaris sepertujuh dana dadakan adalah mental miskin bahkan terlalu takut sekedar untuk membayangkan angka besar.

baca selengkapnya